Senja dan Sebuah Kenangan
Kategori. : Cerpen Cinta Sedih
Penulis : R Budianto
Setiap hari yang aku lewati tetap sama, berada disini sepanjang sore menatap langit yang berwarna merah kekuningan. Aku tetap duduk di bibir pantai, menatap senja yang mulai beranjak pulang ke pangkuan lautan. Menunggu seseorang yang entah kapan dia datang untuk menemuiku di pantai ini, tempat kami dulu sering menghabiskan waktu di kala senja mulai hadir di pelukan awan. Menatap lamat-lamat langit yang berwarna jingga, tertawa riang memandangi burung cemara yang beterbangan menghiasi langit yang menua, merasakan pelukan angin sore yang mendekap kami berdua. Itu kenangan 6 bulan yang lalu bersama Dea.
Katamu, ‘senja selalu tau jalan untuk pulang ke pelukan lautan, seperti hati yang tahu tempat ia untuk pulang.’ Katamu, ‘senja adalah perwujudan dari sebuah kasih sayang antara matahari dan bulan yang saling mengasihi, saling berbagi untuk menyinari bumi, seperti cinta yang saling menyempurnakan.’ Meski senja akan pergi, namun kau selalu percaya ia akan kembali esok hari di tempat dan waktu yang sama. Terasa baru kemarin kamu mengucapkan kata itu, tetapi kenapa kau meninggalkan senja yang tidak meninggalkanmu? Aku sama sekali tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan ini. Aku hanya dapat terus menunggu di sini, tempat pertama dan terakhir kali kita bertemu. Sampai senja menjawab semua kegelisahanku.
“Nata..” Suara yang tiba-tiba menusuk hatiku
Aku segera memalingkan wajah ke arah suara yang sepertinya memanggilku. Suara yang selalu mampu untuk menenangkanku. Melihat bola mata itu yang sempat bertatapan cukup lama denganku tanpa ada satu katapun terucapkan. Inginku marah dengan mata itu tapi rasanya itu mustahil.
“Dea...” ucapku dengan ekspresi setengah kaget
Itu Dea, wanita yang pernah bersamaku menghabiskan hari di pantai ini. Tubuhku tiba-tiba mematung melihat wanita yang pernah mengikrarkan janji bersamaku tiba-tiba ada.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanyaku dengan tutur nada marah, mengeryitkan dahi
“Nata.. Maafkan aku” jawabnya sambil memegang tas samping yang ia kenakan di bahu kanannya
“Maaf katamu? Setelah kau pergi begitu saja, tanpa sebuah penjelasan, lalu kau hanya bilang kata maaf?” Nata mulai berdiri dari Tempat ia semula duduk di sebuah pasir putih pantai itu.
“Nata, ada hal yang harus kamu ketahui. Kenapa tiba-tiba saja aku menghilang tanpa kabar.” ia berjalan mendekati Nata. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang memerah.
“Mungkin ini sudah waktunya mengatakan semua ke kamu.”
Nata yang tampak kebigungan ingin marah, sedih, bahagia, melihat Dea. Hanya bisa terdiam.
“Mungkin kamu tidak akan percaya. Namun ini sebuah kejujuran yang harus aku katakan. Aku menghilang karena aku harus berobat ke luar negeri selama 6 bulan, Aku harus menjalani cuci darah setiap minggu, aku sakit Nata. Waktuku mungkin sudah tidak lama lagi.” Air mata itu semakin deras. Terlihat raut wajah Dea yang amat sangat sedih dengan kenyataan yang dialaminya.
“Sakit katamu?” Tanyaku yang mulai kebingungan
“Iya Nat. Aku sakit. Dokter telah memfonis umurku Nat. Aku nggak mau ini jadi beban pikiran buat kamu, lebih baik diriku menanggung sakit ini sendirian. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk kita.” Jawab Dea yang mulai terisak tangis
Nata yang mulai pucat mendengar perkataan itu, hanya termangu diam.
“Ya Tuhan Jadi ini semua jawaban dari pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hati ku” Nata yang mulai terdiam dan berkata dalam hati
Beberapa menit mereka saling terdiam, entah apa yang ingin di katakan Nata kepada Dea. Sampai akhirnya Nata berjalan mendekati Dea. Kedua tangannya memegang pipi Dea yang sedang menangis. Kesedihan yang sudah tidak terbendung di hati Dea. Nata yang tadinya sangat marah kini mulai meneteskan hujan di matanya. Nata memeluk Dea dengan sangat erat begitu erat. Pelukan yang sudah lama hilang di hatinya.
“Maafkan aku. Aku salah, tidak mau tahu apa yang sebetulnya kamu alami. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak peduli tentang fonis dokter, aku hanya ingin kita melewati ini semua bersama. Aku akan membantumu untuk sembuh Dea. Aku janji. Aku janji.” Kalimat yang terucap berkali-kali dari bibir Nata yang berbisik ke telinga Dea, kata yang penuh dengan makna.
Kesedihan yang di alami Nata dan Dea akan menjadi awal dari sebuah perjuangan cinta sejati. Air mata Nata dan Dea yang menjadi tanda dari sebuah ketulusan menyertai senja yang mulai hilang dari pandangan.
Sore itu, adalah hari yang menjadi saksi
dari sebuah pertemuan dua pasang kekasih yang sudah sekian lama terpisah oleh waktu, disaksikan oleh redupnya udara senja dan cahaya indah berwarna jingga yang terlukis dilangit bumi. Seakan langit ikut Terharu melihat pertemuan yang mengharukan ini.
Cinta yang menyempurnakan adalah mereka yang ingin selalu berjuang. Seperti senja yang selalu menghiasi langit dengan cahayanya, meski ia akan pergi namun tetap berusaha untuk memancarkan kilauannya esok hari. Inilah senja dan sebuah kenangan. Cerita yang tak akan pernah mati.
TAMAT

Belum ada tanggapan untuk "Cerpen (Senja dan Sebuah Kenangan)"
Post a Comment