Tahajjud Cinta di Langit Nurul Ilmi
Kategori : Cerpen Cinta Islami
Penulis : R Budianto
Cinta yang bertaburan
di kala Rindu hadir dalam sanubari. Menjelma dalam sajak yang terungkap melalui
lisan meski dengan kata berbisik diatas tangan yang tertadahkan untuk meminta,
tersimpan berjuta pengharapan yang menjadi pelipur dikala hati sedang gelisah
mempertanyakan ayat-ayat cinta yang akan terhantarkan kepada-Nya, menanti
jawaban yang akan menjadi penuntun kebahagiaan seumur hidup. Akankah do’a
terkabul dan menjadi pelengkap dari hati yang rapuh? Semoga Allah mengabulkan
seruan hati yang begitu tulus untuk meminta ini. Itu Do’a yang selalu Zein
panjatkan di sepertiga malamnya.
Semua berawal disaat
pertemuan Zein dengan seorang wanita yang tidak sengaja di salah satu pengajian
Masjid waktu itu. Hujan lebat yang menghadang mereka untuk kembali pulang
merupakan rentetan kisah ini yang tidak disangka-sangka menjadi takdir dari goresan tangan Zein sebagai pelengkap
cerita mereka. Zein yang nampak gagah mengenakan baju kokoh putih dengan dipadu
padankan sarung kotak-kotak berwarna hijau dan cokelat serta mengenakan peci,
berdiri di serambi menatap jalan yang basah di guyur air hujan. Bagi zein hujan
adalah anugerah dari Allah dan tidak untuk disesali. Sesekali mata Zein
menengok kanan dan kiri melihat situasi disekitar sambil memegang tasbih kecil
yang ia bawa. Matanya sempat terperangah menatap seseorang yang tidak ia kenal.
Melihatnya dari kejauhan, sesekali ia menghentikan pandangannya namun tetap
dilanjutkannya kembali.
Itu adalah seorang
wanita yang Zein pandangi. Melihatnya tanpa kenal siapa dia dan drimana dia
berasal. Namun ia mencoba bergumam dalam hati sendiri ‘Siapa wanita itu dan apa
yang ia lakukan disini!’
Rasa penasaran Zein
semakin bertambah semenjak melihat seorang wanita paruh baya datang menghampiri
wanita yang membuatnya penasaran itu. wanita itu mengajaknya berbincang santai,
terlihat sesekali wanita yang membuat Zein penasaran itu melepaskan senyum
kecilnya.
‘Masya Allah… sungguh
indah senyum wanita itu’ Ucap Zein dalam hati
Hujan yang sedari tadi
turun di Kubah Masjid Nurul Ilmi belum juga reda. Udara sore mulai terasa, satu
dua orang memberanikan diri untuk menerobos hujan. Namun tidak dengan Zein. Ia
masih tetap sabar menunggu hujan reda. Terlihat serambi Masjid mulai sepi dan
hanya tersisa beberapa orang saja. Nampak juga wanita itu masih berdiri tepat
sejajar dengan Zein. Tampak merah padam muka wanita itu yang sadar bahwa ia
dipandangi oleh seorang laki-laki yang tidak ia kenal sama sekali. Tetapi dia
tidak menghiraukan pandangan itu dan hanya tetap menatap lalu-lalang
orang yang sedang berlarian di bawah rinai hujan.
Sejam berlalu, kini
hujan lebat mulai pergi, menyisakan udara dingin yang mulai menusuk di badan.
Lampu Masjid mulai menghiasi cahaya yang senyap.
“Ayo Zein, cepatlah..
nanti keburu hujan lagi” Ucap Abdul sahabat pengajian Zein.
“Ia..ia sabar dikit
bdul, aku ambil sandal dulu” Kata Zein yang mulai mengambil sandal karet
miliknya dan mulai berjalan menuju
sepeda motor abdul.
“ok bdul, kita
berangkat.” Ketus Zein.
Ia mulai meninggalkan
halaman parkir Masjid dan sepintas menatap bola mata wanita itu yang juga mulai
beranjak dari tempatnya berdiri, hingga menyisakan banyak pertanyaan di benak
hatinya.
“Bagaimana tadi
pengajiannya Zen?” Tanya mama Zein yang sedang menyiapkan makanan untuk makan
malam.
“Alhamdulillah, lancar
ma.” Jawab Zein sambil meraih sendok yang ada di meja makan.
“Baguslah kalau gitu,
tapi mama mau nanya nih.” Ucap mama Zein yang mulai duduk di dikursi kayu
tempat disamping Zein.
“ia ma.. mau nanya
apa?” Kata Zein sambil menyendok nasi dimangkuk besar.
“Kapan ngenalin calon
istrimu ke mama? Zein, kan kamu sudah berumur ini sudah waktunya kamu untuk
memilih kehidupan sendiri. Lagi pula mama juga sudah ingin gendong cucu Zein.”
Ucap mama Zein.
“hmm... ia ma Zein tau.
Tapi Zein belum nemu orang yang cocok.” Ucap Zein yang mulai terbata-bata Karen
mengunyah makanan.
“Ah.. kamu selalu saja
jawab gitu.” Ketus mama Zein sambil mendengus dan mulai mengambil makanan yang
sudah disediakannya.
Setelah makan malam
bersama mamanya, Zein mulai beranjak dari meja makan menuju ke kamar tidurnya
untuk beristirahat. Setelah itu, dia bangun di sepertiga malam untuk melakukan
aktivitas yang sudah menjadi kebiasannya setiap hari. Zein lekas bangun dari
tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu ia mengambil
baju koko dan sebuah sarung yang akan ia kenakan untuk beribadah. Kemudian itu,
Zein akan kembali beristirahat dan bangun dini hari esok.
“Hari ini, ada
pengajian lagi yah?” Kata mama Zein sambil menyiapkan sarapan pagi.
“Iya, ma.” Jawab Zein
sambil menggenggam gagang pintu rumah yang dibukanya.
“Kamu nggak sarapan
dulu?” Tanya mama Zein sambil mengernyitkan dahi.
“Nggak ma, nanti Zein
sarapan diluar saja.” Jawab Zein, yang sudah keluar rumah menuju ke Abdul yang
sudah menunggunya sedari tadi didepan rumah.
“Ayo abdul kita
berangkat!” Seru Zein yang sudah naik di motor Abdul.
Hari ini Zein akan menuju
ke Masjid Nurul Ilmi tempat pengajian berlangsung. Maklum saja sebagai remaja Masjid
ia terkadang sibuk dengan urusan-urusan yang akan diadakan. Abdul juga seorang
remaja Masjid sama seperti Zein. Mereka sudah bersahabat dari kecil.
“Oi… tungguin.” Seru
Abdul.
“Buruan! aku mau ketemu
dengan pak Ustadz.” Ucap Zein yang sudah tergesa-gesa berlari kecil menuju
serambi Masjid takut keburu pak Ustadz
masuk kedalam masjid dan memulai acara pengajian.
“Assalamualaikum
Ustadz.” Kata Zein dengan nada pelan.
“Waalaikum salam.”
Jawab pak Ustadz.
“Afwan Ustadz! Saya mau
nanya.”, Ucap Zein yang langsung duduk rapi disamping pak Ustadz.
“Iya silahkan nak
Zein.” Ujar pak Ustadz dengan mendegus kecil.
“Gini pak, kemarin
sewaktu pengajian telah selesai, saya sempat melihat seorang wanita di serambi
ini. Ia memakai pakain muslimah putih dan kerudung berwarna silver sambil
memegang sebuah tas kecil. Dari raut mukanya dia masih terlihat muda pak, tapi
muka wanita itu kok asing bagi saya ya semacam baru liat.” Ucap Zein yang mulai
menjelaskan ciri-ciri wanita itu.
“Seorang wanita?” Kata
pak Ustadz yang berfikir sejenak.
“Oh iya, memang kemarin
ada seorang wanita muda yang kata ibu-ibu pengajian dia baru pertama kali
bergabung dengan pengajian di Masjid kita, dia sempat bertemu dengan saya sepintas
dan berkata ‘Saya ingin belajar agama’ itu yang dikatakan kemarin wanita itu.
Nampaknya ia seorang Muallaf.” Jawab pak Ustadz sambil memainjan jari
telunjuknya di lantai seperti menjelaskan dengan jarinya.
“Mmm… gitu ya, makasih
atas jawabannya Ustadz.” Zein yang mulai berdiri dan melangkah masuk masjid
untuk menyiapkan peralatan yang akan digunakan dalam pengajian nanti.
Detik berganti menit
yang dihias jam, begitu indah siklus waktu yang terus berputar dan menjadi
akhir dari acara pengajian Masjid. Zein yang saat itu sudah membereskan semua
peralatan yang digunakan, melangkah keluar serambi bersiap untuk kembali ke
rumah.
“Tunggu!” Suara yang
tiba-tiba menghentikan langkah Zein.
Zein tiba-tiba terdiam
dan mencoba memalingkan wajahnya kearah suara yang memanggilnya. Terlihat
dimata Zein seorang wanita yang sedang berdiri tepat di belakangnya. Nampak
malu-malu wanita itu. Senyum manis yang terbentuk dari bibirnya seakan mampu
menghentikan waktu. Wanita yang mengenakan pakaian muslimah berwarna merah muda
dan hijab berwarna putih seakan mampu mematikan pancaran sinar mentari. Begitu
sedap dipandang mata.
‘Subuhanallah, ini kan
wanita yang kemarin berdiri tepat disampingku’ Zein yang bergumam dalam hati
dan masih memandangi wajah wanita itu.
“Kamu yang kemarin kan,
yang nunggu hujan reda disini?” Ucap wanita itu yang sedari tadi masih
memberikan senyum manisnya pada Zein
“ii.ih.,iya.” Zein
tidak dapat berkata banyak terhadap wanita yang memberikannya sejuta pertanyaan
dalam hati kecilnya.
“Kemarin waktu kamu
meninggalkan tempat ini, aku tidak sengaja nemuin benda ini dekat rak sandal.”
Kata wanita itu sambil menjulurkan tangannya yang terdapat sebuah benda kecil
menyerupai sebuah tasbih.
“Inikan tasbih aku,”
Kata Zein yang mulai mengambil tasbih dari tangan wanita itu.
“Makasih yah.” Ucapnya
yang nampak malu memandang wajah wanita itu.
“Iya sama-sama.” Sambil
mengukir senyum lebar di wajahnya.
Cukup lama Zein dan wanita itu
berhadapan tanpa kata. Namun akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya
kembali.
“Nama kamu siapa?”
Tanya Zein sambil menjulurkan tangannya ke wanita itu
Nampak malu wanita itu
menggenggam tangan Zein.
“Aku Shuvi. Kalau kamu
Zein kan?” Jawab wanita itu yang mulai bertanya kembali.
“Iya kok kamu tahu?”
“Tadi pak Ustadz kan
yang nyebut nama kamu waktu pengajian.” Jawab Shuvi.
“Oh iya.” Zein
tersenyum kecil menatap wajah wanita itu yang sedari tadi memandanginya dengan
senyum manis dibibirnya dilengkapi dengan lesung pipi yang begitu indah.
Mereka saling menatap
malu. Diterpa angin yang berhembus sepoi-sepoi diantara dedaunan tua yang
nampak berguguran, tanaman baru mulai bertunas dan memberi penghidupan bagi
semua orang melalui oksigen yang
dihasilkannya. Konspirasi alam yang begitu indah yang tersemat bersama benih cinta
diantara mereka berdua.
Cerita yang baru dimulai…,
BERSAMBUNG…

Keren
ReplyDelete